Mahasiswi Program Studi Hukum Ekonomi Syariah (HES) semester 4 Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (Unugiri), Windiyanti Laily Nuraini, berhasil meraih Juara 3 dalam ajang lomba esai nasional Eduspace 2026 yang diselenggarakan oleh Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Kompetisi tersebut mengangkat tema “Akselerasi Transformasi Pendidikan melalui Inovasi Digital untuk Pemerataan Akses Belajar” dan diikuti oleh pelajar serta mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia.
Kegiatan Eduspace 2026 berlangsung sejak 21 April 2026 dengan pembukaan pendaftaran dan publikasi lomba. Selanjutnya, peserta melakukan pengumpulan karya esai hingga tahap penjurian yang dilaksanakan pada 6–7 Mei 2026. Setelah pengumuman pemenang pada 7 Mei 2026, para finalis diwajibkan mempersiapkan presentasi dalam bentuk PowerPoint (PPT) yang dipresentasikan pada puncak acara seminar pendidikan tanggal 9 Mei 2026, yang dilaksanakan secara offline di Auditorium Gedung 06, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Surabaya.
Dalam kompetisi ini, Windiyanti mengusung karya esai berjudul “PINTARIA (Pintar Terintegrasi Berbasis AI Indonesia): Inovasi Digital Cerdas untuk Mengakselerasi Transformasi Pendidikan dan Pemerataan Akses Belajar di Indonesia.” Melalui gagasan tersebut, ia menawarkan inovasi platform pendidikan berbasis Artificial Intelligence (AI) yang dirancang untuk membantu pemerataan akses belajar di Indonesia.
Konsep PINTARIA menghadirkan sistem pembelajaran digital yang adaptif, interaktif, serta mudah diakses oleh pelajar di berbagai wilayah, termasuk daerah yang masih mengalami keterbatasan fasilitas pendidikan. Selain itu, inovasi ini juga menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi secara bijak agar mampu menciptakan pembelajaran yang lebih efektif, personal, dan merata.

Eduspace sendiri merupakan kegiatan yang memadukan lomba esai dan seminar pendidikan sebagai wadah bagi generasi muda untuk menyampaikan ide kreatif, mengembangkan kemampuan berpikir kritis, serta memberikan solusi inovatif terhadap berbagai persoalan pendidikan di era digital. Penilaian lomba dilakukan berdasarkan kesesuaian tema, orisinalitas ide, kreativitas dan inovasi, sistematika penulisan, serta kekuatan analisis dan solusi yang ditawarkan peserta.
Windi mengaku tidak menyangka dapat meraih Juara 3 dalam ajang tersebut. Ia menyampaikan bahwa proses penyusunan esai hingga tahap presentasi memberikan banyak pengalaman baru baginya.
Ia juga menilai bahwa kegiatan tersebut menjadi sarana untuk mengasah kemampuan berpikir kritis, menulis ilmiah, serta public speaking. Menurutnya, kompetisi seperti ini membuka wawasan mahasiswa untuk lebih berani menyampaikan gagasan yang bermanfaat bagi masyarakat.
Selain itu, Windi berpesan bahwa dalam mengikuti sebuah kompetisi, proses dan pengalaman yang diperoleh jauh lebih berharga dibandingkan hasil akhir. Menurutnya, menang maupun kalah merupakan hal yang wajar dalam setiap perlombaan karena keduanya sama-sama memberikan pelajaran untuk berkembang di masa depan.
“Yang terpenting adalah tidak mudah menyerah. Kemenangan bukan satu-satunya tujuan, tetapi bagaimana kita mau berproses, belajar dari setiap pengalaman, dan terus mencoba meskipun hasilnya belum sesuai harapan. Kemenangan hanyalah bonus dari usaha yang sudah dilakukan,” demikian pesan yang disampaikan.
Prestasi yang diraih Windi diharapkan dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus berkarya, berinovasi, dan berkontribusi dalam mendukung transformasi pendidikan di Indonesia melalui gagasan-gagasan kreatif dan solutif.
